REAKTUALISASI MAKNA JIHAD
Kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti “letih/sukar”. ada juga yang menyatakan bahwa jihad berasal dari kata juhd yang berarti “kemampuan.” Dalam terminologi Islam jihad diartikan sebagai perjuangan dengan mengerahkan seluruh potensi dan kemampuan manusia untuk sebuah tujuan. Pada umumnya tujuan jihad adalah kebenaran, kebaikan, kemuliaan, dan kedamaian. “Menurut Fakhr al-Din al-Razi, jihad diarahkan untuk menolong agama Allah, tetapi bisa juga diartikan sebagai perjuangan memerangi musuh (Tafsir al Kabir, V/39),”
Kita dipaparkan oleh banyak kaum non-Islam bahwa jihad itu adalah peperangan. Benarkah jihad identik dengan peperangan? Jika kita merujuk kembali pada ayat-ayat Al Quran, jawabannya jelas: tidak. Al Quran menggunakan dua istilah yang berbeda, tetapi maksudnya sering disamakan: jihâd dan qitâl. Jihâd berarti perjuangan dalam arti yang umum, sementara qitâl berarti peperangan. Jadi, bila Al Quran menggunakan âyât al-jihâd (ayat-ayat jihad), artinya adalah perjuangan dalam makna yang umum; sementara bila menggunakan âyât al-qitâl wa al-sayf (ayat-ayat perang dan pedang), artinya sudah khusus peperangan.
Perbedaan dua istilah yang digunakan oleh Al Quran berpulang pada dua sebab. Pertama, ayat-ayat jihad telah turun sejak periode Islam Mekkah ketika tidak pernah terjadi satu pun peperangan. Jihad dalam periode Islam Mekkah adalah jihad non-perang. Sangat mustahil bila jihad pada periode itu dimaknai sebagai peperangan. Jihad yang bukan qitâl ini bisa kita temukan di Surat al Furqan Ayat 52, al Nahl Ayat 110, Luqman Ayat 15, dan al Ankabut Ayat 69. Sementara ayat-ayat qitâl hanya turun pada periode Madinah yang penuh dengan gemuruh peperangan.
Kedua, lisensi peperangan menggunakan ayat-ayat qitâl secara jelas, bukan dengan
ayat jihad. Surat al-Hajj Ayat 39 menyebutkan telah diizinkan (berperang) bagi
orang-orang yang diperangi. Demikian juga Surat al-Baqarah Ayat 190 yang berbunyi dan perangilah (qâtilû) orang-orang yang memerangimu (al-ladzîna yuqâtalûnakum). Nah, ketika ayat-ayat jihad kembali turun pada periode Madinah,tidak terelakkan muncul makna kontekstual jihad waktu itu, "peperangan". Dari sinilah sumber masalah muncul: menyamakan atau menafsirkan ayat jihad dengan ayat qitâl.
Bisa saja kita memaklumi apabila ada yang menafsirkan ayat-ayat jihad sebagai ayat peperangan karena penafsiran tentu saja didasarkan pada konteks. Lazimnya sebuah penafsiran tidak akan bisa bebas dari subyektivitas penafsir. Yang sama sekali tidak bisa dibenarkan adalah "mengunci" jihad dalam makna peperangan saja.
Oleh sebab itu, menurut Gamal al-Banna—adik bungsu pendiri Ikhwanul Muslimin:
Hasan al-Banna—dalam bukunya al-Jihâd, jihad dan qitâl harus dibedakan secara jelas dan tegas. Jihad tidak identik dengan qitâl, meskipun qitâl pada zaman Nabi merupakan salah satu bentuk dari jihad. Baginya jihad adalah mabda’(prinsip) yang abadi dalam arti dan bentuk yang umum dan seluas-luasnya,sedangkan perang hanyalah wasilah, yang tidak prinsipiil dan sangat situasional.
Dari paparan di atas saya mau menegaskan bahwa arti jihad adalah perjuangan, bukan peperangan. Ia bisa mengalami evolusi sesuai dengan konteksnya. Qitâl hanyalah salah satu corak dari model jihad yang beragam. Maka, penguncian jihad pada makna peperangan merupakan modus penggerusan terhadap keragaman model jihad yang mesti dilawan.
Ayat-ayat qitâl, sebagaimana menurut Gamal Al-Banna, merupakan ayat-ayat
situasional. Perang adalah keterpaksaan untuk mempertahankan diri, bukan keberingasan melakukan penyerangan. Perang pada era Rasulullah dilegalkan untuk mempertahankan prinsip kebebasan beragama yang dirongrong oleh kekuatan bersenjata. Bukan seperti dalih para kawanan teroris saat ini yang menggunakan jihad untuk memberangus prinsip kebebasan beragama ataupun usaha untuk menebarkan bibit-bibit kebencian.
Sudah seharusnya kita melakukan pembebasan melawan modus penguncian yang terjadi
pada sebagian besar doktrin agama Islam, khususnya doktrin jihad ini.
Rabu, 18 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar